Jumat, 02 November 2012

Laporan Praktikum Fisiologi - Otot dan Syaraf Tepi

Tanggal Praktikum               :           Jumat, 13 April 2012
Dosen Pembimbing               :           Drh. Henny Nitbani
Kelompok Praktikum           :           3A
Nama                                      :           Claudya A. Dhaja

OTOT DAN SARAF TEPI
Anggota kelompok :
1.      Claudya anastasia dhaja      (1109011027)              (                       )
2.      Cherly mangi                         (11090110)                  (                       )
3.      Maria kristiani epi goma      (11090110)                  (                       )
4.      Imanuel umbu reda              (11090110)                  (                       )
5.      Febianus boi bere                  (11090110)                  (                       )

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2012

BAB I
PENDAHULUAN
1.1              Latar Belakang
Sistem saraf tersusun oleh berjuta-juta sel saraf yang mempunyai bentuk bervariasi. Sistern ini meliputi sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Dalam kegiatannya, saraf mempunyai hubungan kerja seperti mata rantai (berurutan) antara reseptor dan efektor. Reseptor adalah satu atau sekelompok sel saraf dan sel lainnya yang berfungsi mengenali rangsangan tertentu yang berasal dari luar atau dari dalam tubuh. Efektor adalah sel atau organ yang menghasilkan tanggapan terhadap rangsangan. Contohnya otot dan kelenjar. Otot adalah jaringan peka rangsang, mencetuskan mekanisme kontraksi spesialis kontraksi pada tubuh, mampu mengubah energi listrik menjadi energi kimiawi, dan  mengandung protein-protein kontraktilFisiologi Sistem Saraf 1. Menerima informasi (rangsangan) dari dalam maupun dari luar tubuhmelalui saraf sensori . Saraf sensori disebut juga Afferent SensoryPathway.2. Mengkomunikasikan informasi antara sistem saraf perifer dan sistem saraf pusat.3. Mengolah informasi yang diterima baik ditingkat medula spinalis maupundi otak untuk selanjutnya menentukan jawaban atau respon..
Sistem saraf tepi terdiri dari sistem saraf sadar dan sistem saraf tak sadar (sistem saraf otonom). Sistem saraf sadar mengontrol aktivitas yang kerjanya diatur oleh otak, sedangkan saraf otonom mengontrol aktivitas yang tidak dapat diatur otak antara lain denyut jantung, gerak saluran pencernaan, dan sekresi keringat.
Saraf sumsum tulang belakang berjumlah 31 pasang saraf gabungan. Berdasarkan asalnya, saraf sumsum tulang belakang dibedakan atas 8 pasang saraf leher, 12 pasang saraf punggung, 5 pasang saraf pinggang, 5 pasang saraf pinggul, dan satu pasang saraf ekor. Beberapa urat saraf bersatu membentuk jaringan urat saraf yang disebut pleksus. Ada 3 buah pleksus yaitu pleksus cervicalis merupakan gabungan urat saraf leher yang mempengaruhi bagian leher, bahu, dan diafragma; pleksus brachialis mempengaruhi bagian tangan.; pleksus jumbo sakralis yang mempengaruhi bagian pinggul dan kaki.
1.2              Tujuan praktikum
Praktikum tentang otot dan saraf tepi dilakukan dengan tujuan untuk memperlakukan hewan percobaan dengan menimbulkan sakit yang seminimal mungkin agar katak tidak merasakan rasa sakit, kemudian otaknya dirusak dan agar tidak meronta selama perlakuan.


















BAB II
METODE KERJA

2.1       Tempat dan Waktu
Kegiatan praktikum tentang otot dan susunan saraf tepi, dilakukan pada :
Tempat    :       Laboratorium Fakultas Kedokteran Hewan Undana
Waktu      :       Jumat, 13 April 2012
2.2       Alat dan Bahan
                        Adapun alat dan bahan yang digunakan pada saat praktikum adalah :
1.                  Alat :
*    Skapel.
*    Sonde.
*    Gunting.
*    Pinset biasa.
*    Pinset galvanis
*    Papan gabus
*    Korek api
            2.         Bahan :
*    Katak Bufo sp.
*    Larutan garam faali
*    Serbuk garam dapur
*    Cuka glasial

2.3       Cara Kerja :
A.        Cara mematikan katak untuk percobaan
1.        Katak dipegang pada bagian kepalanya, dengan menggunakan jari telunjuk dan jari tengah, kemudian difiskir dengan ketiga jari lainnya. Kepala katak dibengkokkan.
2.        Otak katak ditusuk dengan menggunakan sonde yang tajam pada foramen oksipitalenya (pada sudut antara garis tulang kepala dengan garis tulang punggung)
3.        Sonde dimasukkan kira-kira ½ cm dan diputar ke kiri, kanan, dan bawah dan dimaju mundurkan.
4.        Bila matanya setengah menutup dan tidak ada reaksi terhadap sentuhan perusakan dihentikan.
5.        Sumsum punggungnya dirusakkan dengan menusukkan ke arah belakang dengan bekas tusukan pertama kali. Sonde dilepaskan hingga kaki katak menjadi lemas.
B.         Membuat sediaan otot saraf
1.        Katak yang telah dimatikan diletakkan di atas papan katak, telungkup
2.        Facia antara m. Biceps femoris dengan m. Semimembranosus disayat, hingga tampak n. Ischiadicus dan a. Femoralis setelah kedua otot dikuakkan.
3.        Ischiadicus ditelusuri dengan menggunting otot-otot di sebelah atasnya, hingga sampai ke daerah punggung..
4.        Tulang di lateral perut dipotong, kemudian dibuka kulit dan otot dan perut. Jeroan disingkirkan.
5.        Badan katak dimiringkan sebesar 120o sementara kakinya tetap telungkup sambil diusahakan mengamati n. Ischiadicusnya.
6.        Kaki kulit dikupas hingga didapatkan ¼ os femur, n. Ischiadicus sepanjang mungkin, m. Gastrocnemius, tendo achilles.
7.        Sediaan dimasukkan ke dalam gelas arloji yang telah diisi dengan larutan garam faali.
C.         Berbagai macam rangasangan pada sediaan otot saraf
1.        Rangsangan mekanis
       Pangkal n ischiadicus dengan batang korek api atau gelas pengaduk
2.        Ransangan galvanis
       Kaki pinset galvanis ditempelkan pada saraf. Saraf harus dalam keadaan basah oleh larutan garam faali. Satu pinset galvanis ditempelkan pada saraf, dan kaki satunya pada medium garam faali. Kemudian, kaki-kaki pinset ditempelkan pada mediumnya saja ssementara saraf berada di tengahnya.
3.        Rangsangan osmotis
       Dengan gelas atau gelas pengaduk sejumloah serbuk garam dapur ditempelkan pada pangkal saraf. Tunggu beberapa menit hingga muncul sifat kontraksi. Jika tidakm ada garam dapur maka dapat digunakan gliserin.
4.        Rangsangan kimiawi
       Sepotong kertas atau kapas dicelupkan ke dalam cuka glasial dan ditempelkan pada pangkal saraf.
5.        Rangsangan panas
       Korek api dinyalakan kemudian dipadamkan lalu segera ditempelkan pada pangkal saraf. Atau gelas pengaduk direndam dalam air mendidih kemudian secara hati-hati diangkat dan ditempelkan pada pangkal saraf.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
1.1                   Hasil
a.       Mematikan katak untuk percobaan
Langkah
Keterangan
*        Foramen oksipitale ditusuk menggunakan sonde kira-kira ½ cm dan menusuk ke sumsum punggung.
*        Sonde ditusukan
Kaki katak meronta-ronta



Mata katak meredup

b.      Membuat sediaan otot saraf
Diperoleh otot n. Ischiadicus, m. Gastrocnemicus, dan tendo achialis.

c.       Rangasangan pada sediaan otot saraf
Jenis rangsangan
Keterangan
Rangsangan mekanis
Terdapat kontraksi otot
Rangsangan galvanis
Terdapat kontraksi otot
Ransangan osmotis
Terdapat kontraksi otot
Ransangan kimiawi
Terdapat kontraksi otot
Rangsangan panas
Terdapat kontraksi otot yang lebih cepat atau otot lebih cepat berkontraksi






1.2                   Pembahasan\
Dari hasil pengamatan di laboratorium tentang otot dan susunan saraf tepi, diperoleh hasil yakni:
a.       Mematikan katak untuk percobaan
Pada saat mematikan katak untuk percobaan, dengan menusukan foramen oksipitale menggunkan sonde kira-kira ½ cm dan ditusuk hingga ke punggung, diperoleh hasil, yakni kaki katak meronta-ronta. Sewaktu sonde ditusukan diperoleh hasil yakni mata kataas meredup. Hal ini disebabkan oleh peran dari beberapa sistem saraf mengalami gangguan.  Adapun sistem saraf tersebut adalah sumsum punggung atau medula spinalis dari katak. Medulla spinalis merupakan lanjutan dari medulla oblongata yang masuk ke dalam kanalis vertebralis. Pada amphibi, medulla spinalis mengalami pembesaran di bagian servikalis. Medulla spinalis berfungsi menghantarkan impuls sensori dari saraf perifer ke otak dan menyampaikan impuls motoris dari otak ke saraf perifer. Selain itu juga merupakan pusat dari refleks. Pada penampang melintang sumsum tulang belakang tampak bagian luar berwarna putih, sedangkan bagian dalam berbentuk kupu-kupu dan berwarna kelabu.
Pada penampang melintang sumsum tulang belakang ada bagian seperti sayap yang terbagi atas sayap atas disebut tanduk dorsal dan sayap bawah disebut tanduk ventral. Impuls sensori dari reseptor dihantar masuk ke sumsum tulang belakang melalui tanduk dorsal dan impuls motor keluar dari sumsum tulang belakang melalui tanduk ventral menuju efektor. Pada tanduk dorsal terdapat badan sel saraf penghubung (asosiasi konektor) yang akan menerima impuls dari sel saraf sensori dan akan menghantarkannya ke saraf motor. Pada bagian putih terdapat serabut saraf asosiasi. Kumpulan serabut saraf membentuk saraf (urat saraf). Urat saraf yang membawa impuls ke otak merupakan saluran asenden dan yang membawa impuls yang berupa perintah dari otak merupakan saluran desenden.
Berdasarkan fungsi medula spinalis maka ketika sumsum tulang belakang dari katak dirusakan, diperoleh hasil yakni katak meronta-ronta dan mata katak mulai meredup. Hal ini menunjukkan adanya reaksi terhadap perlakuan yang diberikan. Medula spinalis sebagai pusat pengendali refleks mengalami gangguan sehingga katak tidak meronta-ronta ketika diberi perlakuan selanjutnya.
b.      Membuat sediaan otot saraf
Membuat sediaan otot saraf dapat dilakukan dengan meletakan katak yang terlah diperlakukan pada bagian pertama, telungkup, kemudian menyayat fasia antara m. Biseps femoris dengan m. Semimembranosus hingga tampak n. Ischiadicus. Hal tersebut dilakukan atau ditelusuri hingga ke bagian punggung. Tulang lateral di perut dipotong kemudian dikupas kulit kakinya. Dengan demikian dapat diperoleh beberapa sediaan otot saraf yakni, ¼ os femur, n. Ischiadicus, m. Gastrocnemicus, dan tendo achilles. Sediaan tersebut dimasukkan ke dalam gelas arloji yang terisi garam faali.
c.       Memberikan rangsangan pada otot saraf
Beberapa rangsangan yang diberikanpada otot saraf yakni : rangsangn mekanis, rangsangan galvanis, rangsangan osmotis, rangsangan kimiawi, dan rangsangan panas.
1.      Rangsangan mekanis dapat dilakukan dengan memijit pangkal dari nervus ischiadicus dengan batang korek api atau gelas pengaduk. Hal ini menyebabkan timbulnya reaksi berupa kontraksi otot yang sederhana.
2.      Rangsangan galvanis, merupakan rangsangan yang melibatkan garam faali, di mana kaki-kaki pinset galvanis ditempelkan pada saraf dan saraf harus dalam keadaan basah oleh garam faali. Pada perlakuan ini, diperolehg hasil yakni, adanya kontraksi otot yang merupakan reaksi dari rangsangan yang diberikan.
3.      Ragsangan osmotis, merupakan rangsangan yang diberikan dengan memberikan sejumlah serbuk garam dapur atau gliserin pada pangkal saraf. Pelakuan ini pun menimbulkan reaksi berupa kontaksi otot.
4.      Rangsangan kimiawi, merupakan rangsangan yang diberikan pada saraf katak dengan menempelkan sepotong kertas atau kapas yang seudah dicelupkan dalam cuka glasial, pada pangkal saraf. Hal tersebut menunjukkan adanya reaksi yang ditimbulkan yakni berupa kontraksi otot.
5.      Rangsangan panas merupakan rangsangan yang diberikan dengan menenpelkan batang korek api yang baru saja dinyalakan kemudian ditiup untuk ditempelkan pada pangkal saraf. Hasil yang diperoleh adalah berupa kontraksi otot yang sangat kut. Hal ini disebabkan oleh faktor intensitas rangsangan yang sangat kuat dari rangsangan panas.






BAB III
PENUTUP

Untuk memperlakukan hewan percobaan dengan menimbulkan sedikit rasa sakit atau agar hewan percobaan tidak merasakan sakit, maka langkah yang dapat digunakan adalah merusakan sum-sum punggung dari hewan tersebut. Hal ini dikarenakan fungsi dari sumsum punggung adalah sebagai pusat refleks.















DAFTAR PUSTAKA

Isnaeni, wiwi. 2006. Fisiologi hewan. Yogyakarta: kanisius
Farid ibnu. 2010. Percobaan refleks ( reaksi pupil ). Http://www.ibnoe-ceper.blogspot.com/2010/30/percobaan-refleks-reaksi-pupil.htm
Anonim.2011. Sistem saraf. Http://iqbalali.com/2011/sistem-saraf.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar